Kompleks Akuaponik FKP

Budidaya ikan secara intensif akan diikuti dengan peningkatan pemberian pakan. Permasalahan yang akan terjadi yaitu tingginya beban limbah nitrogen (N) yang berasal dari sisa pakan, feses dan produk eksresi. Tidak lebih dari 30–40% nitrogen (N) pakan diretensi pada tubuh ikan, sisanya dieksresikan sebagai limbah ke perairan Limbah pada perairan akuakultur akan menyebabkan penurunan kualitas air yang diikuti menurunnya produksi ikan sehingga menimbulkan kerugian dalam kegiatan akuakultur (Avnimeleh, Kochva and Diab, 1994). Suksesnya sistem budidaya ikan terutama tergantung pada efektifitas sistem dalam menangani atau megolah limbah budidaya (Miller dan Libey, 1984). Inovasi teknologi diperlukan untuk mengantisipasi penurunan produksi akuakultur akibat penurunan kualitas air. Inovasi teknologi tersebut diharapkan mampu mengurangi limbah dan meningkatkan produktifitas media budidaya Salah satu sistem yang dapat mengatasi masalah limbah dalam budidaya ikan tersebut adalah sistem akuaponik.


Sistem akuaponik merupakan salah satu teknologi yang mengintegrasikan budidaya ikan secara tertutup (resirculating aquaculture). Akuaponik merupakan bio-integrasi yang menghubungkan akuakultur berprinsip resirkulasi dengan produksi tanaman/sayuran hidroponik (Diver, 2006). Budidaya dengan sistem akuaponik memerlukan tanaman yang dapat berfungsi sebagai filter biologis dalam ekosistem perairan. Jenis tanaman air yang sering digunakan akuaponik seperti kangkung (Ipomea aquatica), selada (Lactuca satica), pokchai (Brassica chinensis), dan tomat (Lycopersicon esculantum), sedangkan ikan yang dipelihara dapat menggunakan ikan konsumsi seperti ikan nila.
Bahan yang digunakan dalam penerapan akuaponik hampir sama dengan hidroponik. Hidroponik adalah teknologi bercocok tanam tanpa media tanah dan menggunakan media air yang mengandung nutrient essensial yang diperlukan dalam pertumbuhan tanaman. Dalam akuaponik, air media budidaya yang mengandung unsur hara yang dimanfaatkan sebagai media tanam bagi tanaman air.

Menurut Diver (2006) sistem akuaponik terdiri dari tiga jenis yaitu sistem pasang surut, sistem NFT (Nutrient Film Technique) dan sistem Floating Raft (rakit apung). Sistem pasang surut adalah sistem yang mengalirkan air pada tempat pemeliharaan tanaman dengan metode pasang surut. Air dari kolam budidaya akan mengaliri tempat pemeliharaan tanaman pada waktu pasang dan tidak ada aliran air dari kolam budidaya yang mengaliri tempat pemeliharaan tanaman pada waktu surut. Sistem ini memiliki keuntungan karena dapat memberikan kesempatan sirkulasi oksigen pada akar tanaman sehingga pembusukan pada akar jarang terjadi. Sistem NFT adalah sistem yang menggunakan prinsip mengalirkan air secara terus menerus pada tempat pemeliharaan tanaman sehingga nutrient dari kolam budidaya dapat terserap terus menerus oleh tanaman dan tanaman cepat tumbuh Sistem Floating raft (rakit apung) adalah sistem yang mebiarkan akar tanaman terendam langsung pada kolam budidaya. Tanaman ini diapungkan dengan sterofoam yang mengapung diatas permukaan kolam budidaya dengan harapan akar dapat menyerap langsung nutrisi di dalam kolam budidaya.


Prinsip teknologi akuaponik adalah pemanfaatan hara dari limbah sisa pakan dan metabolisme ikan melalui simbiosis mutualisman antara ikan, tanaman dan bakteri. Teknologi akuaponik dengan resirkulasi tertutup mampu memproduksi ikan secara optimal dengan menghemat penggunaan air dan dapat memanfaatkan limbah budidaya ikan sehingga sistem akuaponik merupakan sistem budidaya ikan yang ramah lingkungan. Inovasi teknologi sistem akuaponik telah diterapkan di Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *